Beranda / EKONOMI / Simbol Syukur dan Estetika dalam Ritual Hindu Bali

Simbol Syukur dan Estetika dalam Ritual Hindu Bali

Simbol Syukur dan Estetika dalam Ritual Hindu Bali

Simbol Syukur dan Estetika dalam Ritual Hindu Bali. Pulau Bali tidak pernah lepas dari aroma dupa dan semarak upacara adat. Di antara berbagai elemen ritual yang memukau wisatawan dan menjadi inti persembahan umat Hindu, Gebogan atau yang sering juga disebut Pajegan, memegang peranan sentral. Menjulang tinggi dengan susunan buah, kue, dan janur yang artistik, Gebogan bukan sekadar hiasan, melainkan manifestasi rasa bhakti dan syukur manusia kepada Sang Pencipta.

Gebogan biasanya terlihat mencolok saat piodalan (ulang tahun pura) atau hari raya besar seperti Galungan dan Kuningan. Pemandangan barisan perempuan Bali yang berjalan beriringan menuju pura sambil menjunjung Gebogan di atas kepala mereka—sebuah tradisi yang di kenal dengan Mepeed—telah menjadi ikon pariwisata budaya yang mendunia. Namun, di balik keindahannya, tersimpan filosofi mendalam yang di wariskan turun-temurun.

Simbol Gunung dan Rasa Syukur

Secara harfiah, Gebogan berarti “jumlah” atau “gabungan”. Dalam konteks ritual, ia merepresentasikan segala hasil bumi yang di nikmati manusia. Bentuk Gebogan yang mengerucut ke atas menyerupai gunung bukanlah tanpa alasan. Dalam teologi Hindu, gunung di anggap sebagai tempat yang suci, stana para Dewa, dan simbol alam semesta.

“Bentuk segitiga menjulang ke atas itu adalah simbol dari gunung atau Acalapati. Ini bermakna persembahan yang tulus ikhlas di tujukan kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) yang berada di posisi tertinggi,” ujar I Wayan Gede, seorang tokoh adat di wilayah Gianyar.

Sebagai simbol syukur atas kemakmuran alam, isi dari Gebogan sejatinya adalah representasi ekosistem. Bagian bawah biasanya di sangga oleh dulang (nampan kayu berkaki), kemudian di susun buah-buahan lokal, jajanan tradisional, hingga di hiasi dengan sampian (rangkaian janur) dan bunga di puncaknya.

Seni Merangkai dan Komposisi

Pembuatan Gebogan menuntut keterampilan tangan dan rasa seni yang tinggi. Tidak ada aturan baku mengenai tinggi Gebogan, namun estetika dan keseimbangan adalah kunci. Secara tradisional, buah-buahan yang lebih besar dan keras seperti kelapa atau jeruk bali di letakkan di bagian bawah sebagai fondasi. Semakin ke atas, ukuran buah semakin kecil.

Buah-buahan tersebut “di tusuk” atau dikaitkan pada batang pohon pisang yang menjadi sumbu tengah menggunakan katik (tusuk bambu). Sela-sela antar buah seringkali di hiasi dengan kue tradisional berwarna-warni, tebu, atau kepingan biskuit, menciptakan gradasi warna yang memikat mata.

Di puncak Gebogan, wajib di letakkan Canang Sari dan Sampian sebagai simbol sari-sari persembahan dan permohonan agar persembahan tersebut di berkati. Ketinggian Gebogan bisa bervariasi, mulai dari yang sederhana setinggi 30 cm hingga yang menjulang lebih dari satu meter untuk upacara-upacara besar.

Pergeseran Tren: Kembali ke Buah Lokal

Dalam satu dekade terakhir, sempat terjadi pergeseran tren dalam penyusunan Gebogan. Masuknya buah-buahan impor seperti apel Washington, pir, hingga anggur sempat mendominasi karena di anggap lebih prestisius, tahan lama, dan memiliki warna yang lebih seragam.

Namun, belakangan ini muncul gerakan kesadaran budaya dan lingkungan yang didorong oleh pemerintah daerah serta tokoh agama untuk kembali menggunakan buah lokal. Penggunaan buah lokal seperti manggis, salak, jeruk Kintamani, dan pisang, selain mensejahterakan petani lokal, juga memiliki nilai filosofis “desa, kala, patra” (tempat, waktu, dan keadaan).

“Buah lokal justru lebih sesuai dengan nafas alam Bali. Setelah upacara selesai, buah lokal sisa persembahan (lungsuran) bisa di konsumsi keluarga dan sisa organiknya lebih mudah terurai oleh tanah di bandingkan pembungkus plastik buah impor,” tambah Wayan.

Tradisi Mepeed: Harmoni Kebersamaan

Puncak dari keindahan Gebogan terlihat saat tradisi Mepeed. Di desa-desa adat seperti Sukawati atau Mengwi, ratusan wanita Bali akan mengenakan kebaya seragam dan kain kamen yang senada, berjalan beriringan menuju pura desa sambil menjunjung Gebogan.

Momen ini bukan sekadar parade budaya, melainkan bentuk ngayah (pengabdian tulus). Menjaga keseimbangan Gebogan yang berat di atas kepala sambil berjalan jauh membutuhkan konsentrasi fisik dan mental. Yang di maknai sebagai bentuk pengendalian diri dan fokus dalam beribadah.

Keberadaan Gebogan membuktikan bahwa dalam tradisi Hindu Bali, seni dan spiritualitas tidak dapat di pisahkan. Ia adalah bukti visual dari hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *