Kisah Mistis Setra Bojog Sangeh Setra Bojog Sangeh yang terletak di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali, di kenal luas sebagai kawasan hutan pala dengan ratusan kera ekor panjang. Di balik pesonanya sebagai destinasi wisata alam, kawasan ini juga menyimpan kisah mistis yang di percaya turun-temurun oleh masyarakat setempat. Aura sakral dan cerita gaib menjadi bagian yang tak terpisahkan dari identitas Setra Bojog Sangeh.
Bagi warga Desa Adat Sangeh, Setra Bojog bukan sekadar hutan atau tempat wisata, melainkan wilayah suci yang memiliki penunggu tak kasatmata. Keberadaan makhluk gaib di yakini ikut menjaga keseimbangan alam dan kesucian kawasan tersebut.
Asal-usul Kisah Mistis Nama Setra Bojog
Dalam bahasa Bali, “setra” berarti kuburan atau kawasan suci, sedangkan “bojog” berarti kera. Penamaan Setra Bojog mencerminkan fungsi ganda kawasan ini sebagai tempat yang di sakralkan dan habitat alami kera yang di anggap memiliki kedudukan khusus.
Masyarakat percaya bahwa kera-kera di Sangeh bukan hewan biasa, melainkan jelmaan atau titipan kekuatan niskala yang di beri tugas menjaga kawasan suci. Oleh karena itu, kera di Setra Bojog tidak boleh di sakiti atau di perlakukan sembarangan. Banyak wisatawan datang bukan hanya untuk melihat kera, tetapi juga merasakan atmosfer sakral yang berbeda dari tempat wisata biasa.
Hutan Pala sebagai Gerbang Dunia Niskala
Setra Bojog Sangeh di dominasi oleh pohon pala raksasa yang berusia ratusan tahun. Pohon-pohon besar ini di percaya menjadi tempat bersemayam makhluk halus dan energi gaib. Dalam kepercayaan lokal, hutan tua sering dianggap sebagai gerbang antara dunia sekala (nyata) dan niskala (gaib).
Beberapa warga mengaku pernah merasakan suasana berbeda saat memasuki kawasan tertentu di hutan, seperti hawa dingin mendadak, perasaan di awasi, atau mendengar suara-suara tanpa wujud. Pengalaman ini di yakini sebagai tanda bahwa seseorang telah memasuki wilayah yang di jaga secara gaib. Kisah Mistis Setra Bojog Sangeh
Kisah Penampakan dan Kejadian Aneh
Cerita penampakan di Setra Bojog Sangeh kerap beredar dari mulut ke mulut. Ada yang mengaku melihat sosok bayangan hitam besar di antara pepohonan, sementara yang lain mengaku melihat kera berperilaku tidak biasa, seperti seolah memahami ucapan manusia.
Beberapa pengunjung juga di percaya pernah “tersesat” meski berada di jalur yang sama. Menurut kepercayaan setempat, hal ini terjadi karena pengunjung tidak menjaga sikap atau berkata sembarangan di kawasan suci, sehingga secara tidak sadar melanggar aturan adat.
BACA JUGA : Rumah Adat Lopo dan Demokrasi Adat Timor
Kisah Mistis Peran Kera sebagai Penjaga Sakral
Kera-kera di Setra Bojog di percaya berperan sebagai penjaga kawasan suci. Dalam cerita mistis lokal, kera disebut mampu membedakan mana pengunjung yang berniat baik dan mana yang memiliki niat buruk.
Jika ada orang yang berlaku tidak sopan, merusak alam, atau berbicara kasar, kera di yakini akan bertindak agresif sebagai bentuk peringatan. Sebaliknya, pengunjung yang bersikap hormat cenderung mengalami kunjungan yang aman dan lancar. Pengelola kawasan berupaya menyeimbangkan pengembangan wisata dengan pelestarian nilai adat dan kesucian tempat. Edukasi kepada wisatawan menjadi kunci agar cerita mistis tidak berubah menjadi eksploitasi, melainkan sarana penghormatan budaya.
Pantangan dan Aturan Tak Tertulis
Masyarakat Desa Adat Sangeh memiliki sejumlah pantangan tidak tertulis terkait Setra Bojog. Salah satunya adalah larangan berkata kotor, sombong, atau meremehkan kesakralan tempat. Pengunjung juga di anjurkan menjaga perilaku dan berpakaian sopan.
Pantangan lainnya adalah tidak membawa pulang apa pun dari kawasan hutan, baik berupa daun, kayu, maupun benda lain. Pelanggaran terhadap pantangan ini di percaya dapat mendatangkan gangguan niskala, seperti sakit mendadak atau mimpi buruk berulang. Mitos juga berperan menjaga kelestarian kawasan. Rasa takut melanggar pantangan membuat masyarakat dan pengunjung lebih berhati-hati dalam bertindak, sehingga hutan tetap terjaga dari kerusakan. Kini, Setra Bojog Sangeh di kenal sebagai destinasi wisata alam dan budaya. Namun, unsur mistis tetap menjadi daya tarik tersendiri.
Ritual Adat untuk Menjaga Keseimbangan
Untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan dunia gaib, Desa Adat Sangeh secara rutin melaksanakan upacara adat di kawasan Setra Bojog. Ritual ini bertujuan memohon keselamatan, keseimbangan energi, serta perlindungan dari gangguan niskala.
Upacara juga menjadi wujud rasa syukur atas kelestarian hutan dan keberadaan kera. Dalam pandangan masyarakat Bali, menjaga keseimbangan alam berarti menjaga keseimbangan hidup itu sendiri. Kisah mistis Setra Bojog Sangeh hidup sebagai kepercayaan kolektif masyarakat. Terlepas dari benar atau tidaknya secara logika modern, cerita-cerita ini berfungsi sebagai pengingat agar manusia bersikap hormat terhadap alam dan tradisi.
Kisah Mistis Kesakralan yang Menjaga Alam dan Tradisi
Kisah Mistis Setra Bojog Sangeh bukan sekadar cerita horor, melainkan bagian dari kearifan lokal masyarakat Bali. Cerita-cerita tersebut mengajarkan pentingnya menjaga sikap, menghormati alam, dan memahami bahwa manusia hidup berdampingan dengan kekuatan yang tidak selalu kasatmata.
Di tengah modernisasi dan pariwisata massal, Setra Bojog Sangeh tetap berdiri sebagai ruang sakral yang mengingatkan bahwa harmoni antara manusia, alam, dan dunia niskala adalah fondasi kehidupan yang harus terus di jaga.




