Subak Terhimpit Vila, Petani Muda Bali Bertahan Sistem irigasi tradisional subak yang menjadi warisan budaya dunia UNESCO kini menghadapi tekanan serius akibat pesatnya pembangunan vila dan akomodasi pariwisata di Bali. Alih fungsi lahan pertanian menjadi bangunan komersial terus terjadi, terutama di wilayah Bali Selatan dan kawasan penyangga pariwisata. Sawah-sawah yang dahulu membentang luas kini terfragmentasi, mengancam keberlangsungan subak sebagai sistem pengairan sekaligus tatanan sosial budaya masyarakat Bali.
Petani Muda di Persimpangan Zaman
Di tengah tekanan tersebut, muncul kelompok petani muda Bali yang memilih bertahan dan tetap mengelola lahan sawah warisan keluarga. Keputusan ini tidak mudah, mengingat tawaran harga tanah dari investor vila kerap jauh lebih menggiurkan dibandingkan hasil pertanian. Namun, bagi petani muda ini, bertani bukan sekadar mata pencaharian, melainkan bentuk tanggung jawab menjaga warisan leluhur dan keseimbangan alam.
Tantangan Ekonomi dan Sosial
Petani muda menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan lahan, naiknya biaya produksi, hingga ketidakpastian harga hasil panen. Di sisi lain, pembangunan vila kerap mengganggu sistem irigasi subak, baik karena perubahan aliran air maupun penggunaan air berlebihan. Kondisi ini membuat produktivitas pertanian menurun dan memicu konflik kepentingan antara petani dan pelaku pariwisata. Subak Terhimpit Vila, Petani Muda Bali Bertahan
BACA JUGA : Evaluasi 5 Tahun Larangan Plastik di Pasar Bali
Inovasi dan Adaptasi Petani Muda
Untuk bertahan, petani muda Bali mulai melakukan berbagai inovasi. Sebagian mengembangkan pertanian organik bernilai jual tinggi, memanfaatkan media sosial untuk pemasaran langsung, hingga menggabungkan pertanian dengan konsep agrowisata. Dengan cara ini, sawah tidak hanya di pertahankan sebagai lahan produksi pangan, tetapi juga sebagai ruang edukasi dan destinasi wisata berbasis budaya dan alam.
Subak sebagai Identitas Budaya
Bagi masyarakat Bali, subak bukan sekadar sistem irigasi, melainkan bagian dari identitas budaya yang berlandaskan filosofi Tri Hita Karana. Hilangnya subak berarti hilangnya keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Oleh karena itu, perjuangan petani muda mempertahankan subak memiliki makna yang lebih luas, yakni menjaga jati diri Bali di tengah gempuran pembangunan modern.
Subak Terhimpit Vila Peran Pemerintah dan Desa Adat
Pemerintah daerah dan desa adat memiliki peran strategis dalam melindungi subak dari alih fungsi lahan yang tidak terkendali. Regulasi tata ruang, insentif bagi petani, serta pengawasan ketat terhadap pembangunan vila di nilai menjadi kunci. Dukungan kebijakan yang berpihak pada pertanian dan petani muda di harapkan mampu memperkuat posisi subak di tengah tekanan industri pariwisata.
Subak Terhimpit Vila Harapan Masa Depan Subak
Meski terhimpit pembangunan vila, semangat petani muda Bali memberikan harapan bagi masa depan subak. Dengan dukungan berbagai pihak, subak masih memiliki peluang untuk bertahan dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Perjuangan petani muda ini menjadi pengingat bahwa kemajuan pariwisata seharusnya tidak mengorbankan warisan Budaya dan ketahanan pangan. Subak bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi masa depan Bali yang berkelanjutan.





