Beranda / KESEHATAN / Peringatan! Jangan Abaikan Kesemutan Berulang, Waspadai Potensi Gejala Awal Serangan Stroke

Peringatan! Jangan Abaikan Kesemutan Berulang, Waspadai Potensi Gejala Awal Serangan Stroke

Peringatan! Jangan Abaikan Kesemutan Berulang, Waspadai Potensi Gejala Awal Serangan Stroke

Peringatan! Jangan Abaikan Kesemutan Berulang, Waspadai Potensi Gejala Awal Serangan Stroke

Peringatan! Jangan Abaikan Kesemutan Berulang, Waspadai Potensi Gejala Awal Serangan Stroke. Kesemutan atau paresthesia adalah sensasi umum yang di alami banyak orang, biasanya di picu oleh posisi duduk atau tidur yang menekan saraf dalam waktu lama. Sensasi ini sering di anggap remeh dan akan hilang dengan sendirinya setelah tubuh bergerak. Namun, jika kesemutan terjadi secara berulang, menetap, atau muncul tiba-tiba di salah satu sisi tubuh, ini bisa menjadi sinyal bahaya yang tidak boleh di abaikan. Kesemutan berulang bisa menjadi salah satu gejala neurologis dini yang mengarah pada kondisi medis serius, termasuk serangan stroke.

Penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan antara kesemutan biasa dengan kesemutan patologis (penyakit), terutama mengingat stroke adalah penyebab utama kecacatan dan kematian di dunia.

Kesemutan Biasa vs. Kesemutan Peringatan

Kesemutan yang umum terjadi (misalnya saat kaki tertindih) adalah hasil dari tekanan sementara pada saraf, yang menghambat aliran darah. Sensasi ini biasanya melibatkan kedua sisi anggota badan (misalnya kedua kaki) dan segera hilang setelah tekanan dilepaskan.

Sebaliknya, kesemutan yang menjadi tanda peringatan stroke memiliki karakteristik khas:

  • Sifat Mendadak: Kesemutan muncul tiba-tiba tanpa ada tekanan fisik yang mendahului.

  • Unilateral (Satu Sisi): Sensasi ini terbatas pada salah satu sisi tubuh saja, misalnya hanya pada lengan dan kaki kiri, atau hanya pada separuh wajah.

  • Disertai Gejala Lain: Kesemutan ini seringkali di dampingi oleh gejala neurologis lain yang akan dibahas lebih lanjut.

Dalam konteks stroke, kesemutan adalah hasil dari terganggunya aliran darah ke area otak yang bertanggung jawab memproses informasi sensorik dari anggota tubuh.

Hubungan Erat Kesemutan dengan Stroke

Stroke terjadi ketika pasokan darah ke otak terputus (stroke iskemik) atau ketika pembuluh darah pecah (stroke hemoragik). Area otak yang kekurangan oksigen dan nutrisi akan mulai mati dalam hitungan menit. Ketika area yang terkena adalah korteks somatosensori (bagian otak yang memproses sentuhan, nyeri, dan suhu), salah satu manifestasi awalnya adalah paresthesia atau kebas/kesemutan.

Pada stroke ringan atau Transient Ischemic Attack (TIA), yang sering disebut mini stroke, gejala seperti kesemutan atau mati rasa ini bisa muncul sebentar dan hilang. Namun, TIA adalah pertanda kuat bahwa stroke yang lebih besar dan permanen akan terjadi di masa depan. Oleh karena itu, kesemutan yang hilang-timbul atau berulang harus segera di respons medis.

Kenali Gejala Neurologis Lain yang Mengiringi

Jika seseorang mengalami kesemutan yang dicurigai sebagai gejala stroke, perlu diperhatikan apakah sensasi tersebut disertai dengan gejala lain yang menjadi akronim kunci dalam deteksi stroke, yaitu FAST (Face, Arm, Speech, Time):

  • F (Face – Wajah): Apakah salah satu sisi wajah terkulai atau mati rasa? Mintalah untuk tersenyum; jika senyumnya tidak simetris, itu adalah tanda bahaya.

  • A (Arm – Lengan): Apakah salah satu lengan atau kaki terasa lemah atau mati rasa? Mintalah untuk mengangkat kedua lengan; jika salah satu lengan jatuh ke bawah, itu adalah masalah neurologis.

  • S (Speech – Bicara): Apakah bicaranya menjadi cadel, pelo, atau sulit di mengerti?

  • T (Time – Waktu): Jika terlihat salah satu dari gejala di atas, segera hubungi bantuan medis darurat.

Selain FAST, kesemutan atau mati rasa satu sisi juga sering menyertai sakit kepala parah mendadak, kesulitan berjalan, dan gangguan keseimbangan.

Mencegah Lebih Baik Daripada Mengobati

Mengabaikan kesemutan berulang adalah langkah yang sangat berisiko. Jika sering mengalami gejala ini, konsultasikan dengan dokter. Penyelidikan medis di perlukan untuk menyingkirkan kemungkinan diagnosis lain seperti neuropati perifer (kerusakan saraf tepi, sering terjadi pada penderita diabetes) atau masalah tulang belakang, dan yang terpenting, untuk menilai risiko stroke.

Manajemen faktor risiko stroke, seperti mengendalikan tekanan darah tinggi, kadar kolesterol, dan gula darah (diabetes), adalah kunci utama. Jangan biarkan paresthesia menjadi peringatan terakhir sebelum kerusakan otak permanen terjadi. Tanggapi setiap sinyal tubuh dengan serius.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *