Beranda / BALI INDONESIA / Maraknya “Gentrification” di Ubud: Warga Lokal Mulai Tergeser oleh Investasi Properti Asing

Maraknya “Gentrification” di Ubud: Warga Lokal Mulai Tergeser oleh Investasi Properti Asing

Maraknya “Gentrification” di Ubud: Warga Lokal Mulai Tergeser oleh Investasi Properti Asing

Maraknya “Gentrification” di Ubud: Warga Lokal Mulai Tergeser oleh Investasi Properti Asing Ubud selama ini di kenal sebagai pusat seni, budaya, dan spiritualitas Bali. Namun dalam beberapa tahun terakhir, wajah Ubud mulai berubah seiring maraknya investasi properti asing. Fenomena yang di kenal sebagai gentrification ini di tandai dengan masuknya modal besar untuk pembangunan vila, resort, kafe, dan ruang komersial yang menyasar wisatawan kelas menengah ke atas. Perubahan tersebut membawa dampak signifikan terhadap struktur sosial dan ekonomi masyarakat lokal.

Lonjakan Harga Tanah dan Hunian

Salah satu dampak paling nyata dari gentrification di Ubud adalah melonjaknya harga tanah dan properti. Permintaan tinggi dari investor asing mendorong nilai lahan naik drastis, jauh melampaui kemampuan beli warga lokal. Banyak keluarga adat yang akhirnya memilih atau terpaksa menjual tanah warisan mereka karena nilai jual yang menggiurkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini menyebabkan semakin menyempitnya ruang tinggal bagi masyarakat lokal di kawasan inti Ubud.

Warga Lokal Mulai Tergeser

Kenaikan harga tanah dan biaya hidup berdampak langsung pada kehidupan warga lokal. Sejumlah masyarakat mulai berpindah ke wilayah pinggiran karena tidak lagi mampu bertahan di pusat Ubud. Pergeseran ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan kultural. Komunitas adat yang sebelumnya hidup berdampingan perlahan terfragmentasi, sehingga ikatan sosial dan tradisi lokal ikut terancam. Maraknya “Gentrification” di Ubud: Warga Lokal Mulai Tergeser oleh Investasi Properti Asing

BACA JUGA : Autogate AI Percepat Imigrasi Bandara Ngurah Rai

Maraknya “Gentrification” Perubahan Fungsi Ruang dan Identitas Budaya

Gentrification juga mengubah fungsi ruang di Ubud. Rumah tinggal beralih menjadi vila atau homestay, sawah berubah menjadi bangunan komersial, dan ruang publik menyempit. Aktivitas budaya yang dulunya menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga kini sering bergeser menjadi tontonan wisata. Identitas Ubud sebagai desa budaya perlahan bertransformasi menjadi kawasan komersial pariwisata, memunculkan kekhawatiran akan hilangnya ruh lokal yang selama ini menjadi daya tarik utama.

Maraknya “Gentrification” Manfaat Ekonomi yang Tidak Merata

Masuknya investasi properti asing memang membawa dampak ekonomi, seperti terciptanya lapangan kerja dan meningkatnya perputaran uang. Namun manfaat tersebut di nilai belum sepenuhnya di rasakan secara merata oleh warga lokal. Banyak posisi strategis dan keuntungan utama justru di kuasai pemodal besar, sementara masyarakat lokal hanya terlibat sebagai pekerja dengan daya tawar terbatas. Ketimpangan ini memperkuat kesenjangan sosial di tingkat lokal.

Peran Pemerintah dan Desa Adat

Fenomena gentrification di Ubud mendorong perlunya peran lebih aktif dari pemerintah daerah dan desa adat. Penataan tata ruang, pengendalian alih fungsi lahan, serta pengetatan izin investasi di nilai penting untuk melindungi kepentingan warga lokal. Desa adat juga di harapkan dapat memperkuat awig-awig terkait pemanfaatan tanah dan bangunan agar pembangunan tetap sejalan dengan nilai budaya dan keberlanjutan lingkungan.

Mencari Keseimbangan Pembangunan

Maraknya gentrification di Ubud menjadi peringatan bahwa pembangunan pariwisata dan investasi harus di kelola secara hati-hati. Tanpa regulasi yang berpihak pada masyarakat lokal, Ubud berisiko kehilangan identitas dan komunitas aslinya. Ke depan, keseimbangan antara investasi, pelestarian budaya, dan perlindungan warga lokal menjadi kunci agar Ubud tetap hidup sebagai ruang Budaya, bukan sekadar komoditas pariwisata.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *