Krisis Air Badung Akibat Alih Fungsi Lahan Kabupaten Badung, sebagai jantung pariwisata Bali, kini menghadapi krisis air yang semakin nyata. Pesatnya alih fungsi lahan dari kawasan hijau dan pertanian menjadi hotel, vila, serta infrastruktur pariwisata di nilai sebagai penyebab utama menurunnya ketersediaan air bersih. Wilayah yang dulunya berfungsi sebagai daerah resapan air kini berubah menjadi kawasan terbangun, sehingga kemampuan alam menyimpan air hujan semakin berkurang.
Menurunnya Daya Resap dan Sumber Air
Alih fungsi lahan berdampak langsung pada menurunnya daya resap tanah. Betonisasi masif membuat air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung mengalir ke saluran drainase dan berakhir di laut. Akibatnya, cadangan air tanah terus menipis. Sejumlah mata air dan sumur warga dilaporkan mengalami penurunan debit, bahkan mengering pada musim kemarau. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan keberlanjutan pasokan air bersih di Badung. Krisis Air Badung Akibat Alih Fungsi Lahan
Dampak terhadap Masyarakat Lokal
Krisis air paling di rasakan oleh masyarakat lokal, terutama di wilayah perdesaan dan kawasan pinggiran pariwisata. Warga harus bergantung pada pasokan air tangki atau sumur bor yang semakin dalam, dengan biaya yang tidak murah. Ironisnya, di saat masyarakat mengalami kesulitan air, kawasan pariwisata justru di kenal sebagai pengguna air dalam jumlah besar untuk kebutuhan hotel, kolam renang, dan taman.
BACA JUGA: Subak Terhimpit Vila, Petani Muda Bali Bertahan
Pariwisata dan Ketimpangan Penggunaan Air
Sektor pariwisata disebut sebagai salah satu konsumen air terbesar di Badung. Penggunaan air yang tinggi, jika tidak di imbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan, memperparah ketimpangan distribusi air. Kondisi ini memunculkan kritik terhadap model pembangunan pariwisata yang di nilai kurang memperhatikan daya dukung lingkungan. Tanpa pengendalian alih fungsi lahan dan konsumsi air, krisis di perkirakan akan semakin parah.
Ancaman terhadap Pertanian dan Subak
Krisis air juga mengancam sektor pertanian dan sistem irigasi tradisional subak. Berkurangnya pasokan air membuat petani kesulitan mengairi sawah, sehingga produktivitas menurun. Subak yang selama berabad-abad menjadi tulang punggung pertanian Bali kini berada dalam posisi rentan. Hilangnya lahan pertanian akibat alih fungsi semakin mempersempit ruang hidup subak dan melemahkan ketahanan pangan lokal.
Krisis Air Badung Upaya Pemerintah dan Tantangan Kebijakan
Pemerintah daerah telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi krisis air, mulai dari pengaturan tata ruang, pembatasan izin pembangunan, hingga kampanye penghematan air. Namun, implementasi di lapangan masih menghadapi tantangan, terutama tekanan investasi dan lemahnya pengawasan. Di perlukan kebijakan yang lebih tegas dan konsisten agar perlindungan sumber daya air tidak hanya menjadi wacana.
Krisis Air Badung Menata Ulang Arah Pembangunan Badung
Krisis air di Badung menjadi peringatan serius bahwa pembangunan tidak bisa terus berjalan tanpa memperhitungkan daya dukung lingkungan. Penataan ulang arah pembangunan dengan mengedepankan keberlanjutan menjadi kebutuhan mendesak. Pelestarian kawasan resapan, pengendalian alih fungsi lahan, serta keterlibatan desa adat dan Masyarakat lokal dinilai menjadi kunci menjaga ketersediaan air. Tanpa langkah konkret, krisis air bukan lagi ancaman, melainkan kenyataan yang akan terus membayangi masa depan Badung dan pariwisata Bali.





