Banjir Lombok Barat Belum Surut Logistik Menipis Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB), hingga kini belum sepenuhnya surut. Genangan air masih merendam permukiman warga, lahan pertanian, serta fasilitas umum di beberapa kecamatan. Kondisi ini membuat aktivitas masyarakat lumpuh dan memaksa ribuan warga bertahan di lokasi pengungsian dengan keterbatasan logistik.
Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Lombok Barat dalam beberapa hari terakhir menjadi penyebab utama banjir. Selain curah hujan ekstrem, buruknya sistem drainase dan meluapnya sungai turut memperparah kondisi di lapangan.
Banjir Lombok Barat Ribuan Warga Terdampak dan Mengungsi
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lombok Barat mencatat ribuan warga terdampak akibat banjir yang belum surut ini. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman, seperti balai desa, sekolah, dan fasilitas umum lainnya.
Di lokasi pengungsian, warga menghadapi keterbatasan ruang dan fasilitas. Anak-anak, lansia, serta ibu hamil menjadi kelompok paling rentan terdampak kondisi tersebut. Banyak pengungsi mengaku mulai kelelahan karena harus berhari-hari tinggal di tempat seadanya dengan kondisi yang serba terbatas. “Air belum juga surut, rumah kami masih terendam. Kami terpaksa bertahan di pengungsian,” ujar salah seorang warga terdampak.
Logistik Bantuan Mulai Menipis
Seiring berlarutnya banjir, persoalan logistik menjadi perhatian utama. Persediaan bahan makanan, air bersih, selimut, serta kebutuhan bayi di sejumlah titik pengungsian dilaporkan mulai menipis. Bantuan yang sempat disalurkan pada hari-hari awal banjir kini tidak lagi mencukupi kebutuhan para pengungsi.
Petugas di lapangan menyebut distribusi logistik terkendala oleh akses jalan yang masih tergenang air. Beberapa jalur utama sulit dilalui kendaraan pengangkut bantuan, sehingga proses penyaluran tidak berjalan optimal. “Kami berupaya menyalurkan bantuan, namun kondisi medan cukup menyulitkan,” ungkap petugas BPBD setempat.
Kondisi Kesehatan Pengungsi Perlu Perhatian
Selain logistik, kondisi kesehatan pengungsi juga menjadi perhatian serius. Lingkungan pengungsian yang padat dan minim fasilitas sanitasi meningkatkan risiko penyebaran penyakit, seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan penyakit kulit. Banjir Lombok Barat Belum Surut Logistik Menipis
Dinas Kesehatan setempat telah menurunkan tenaga medis untuk melakukan pemeriksaan kesehatan rutin di lokasi pengungsian. Namun, keterbatasan obat-obatan dan peralatan medis menjadi tantangan tersendiri. Petugas kesehatan mengimbau warga untuk menjaga kebersihan dan segera melapor jika mengalami keluhan kesehatan. Upaya pencegahan terus dilakukan agar tidak terjadi wabah di tengah kondisi darurat.
BACA JUGA : Bayern Munich Lolos ke 16 Besar Liga Champions
Pemerintah Daerah Tetapkan Banjir Lombok Barat Status Tanggap Darurat
Pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir. Status ini memungkinkan mobilisasi sumber daya dan bantuan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan pusat.
Bupati Lombok Barat menyatakan pihaknya terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk mempercepat penanganan banjir dan pemenuhan kebutuhan dasar warga. Pemerintah juga mengerahkan alat berat untuk membersihkan saluran air dan mempercepat surutnya genangan. “Kami fokus pada keselamatan warga dan pemenuhan kebutuhan pengungsi,” kata Bupati Lombok Barat dalam keterangannya.
Banjir Lombok Barat Kerusakan Infrastruktur dan Lahan Pertanian
Banjir yang belum surut juga mengakibatkan kerusakan infrastruktur, seperti jalan desa, jembatan kecil, dan fasilitas umum lainnya. Beberapa ruas jalan tidak dapat di lalui karena tertutup lumpur dan genangan air.
Selain itu, lahan pertanian warga terendam banjir, mengancam gagal panen. Petani mengaku khawatir kerugian akan semakin besar jika banjir tidak segera surut. Sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan utama warga Lombok Barat kini berada dalam kondisi terancam. Penanganan darurat yang cepat dan tepat, di sertai langkah pemulihan pascabencana, menjadi kunci agar warga dapat segera bangkit dan kembali menjalani kehidupan normal.
Peran Relawan dan Solidaritas Masyarakat
Di tengah keterbatasan, peran relawan dan solidaritas masyarakat menjadi penopang utama. Sejumlah relawan dari berbagai organisasi kemanusiaan turut membantu evakuasi warga, pendistribusian bantuan, serta pelayanan di dapur umum.
Masyarakat sekitar juga saling bahu-membahu membantu korban banjir, mulai dari menyediakan makanan hingga tempat tinggal sementara. Solidaritas ini menjadi harapan di tengah situasi sulit yang di hadapi warga terdampak.
Harapan Warga dan Upaya Jangka Panjang
Warga Lombok Barat berharap banjir segera surut agar mereka dapat kembali ke rumah dan beraktivitas normal. Mereka juga berharap adanya solusi jangka panjang dari pemerintah untuk mencegah banjir serupa terulang di masa depan.
Pakar lingkungan menilai perlunya perbaikan tata kelola daerah aliran sungai, peningkatan sistem drainase, serta pengendalian alih fungsi lahan. Tanpa langkah preventif yang serius, banjir di khawatirkan akan terus menjadi ancaman tahunan bagi wilayah Lombok Barat. Dengan kondisi banjir yang belum surut dan logistik yang semakin menipis, dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak sangat di butuhkan. Pemerintah, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat di harapkan dapat bersinergi untuk membantu warga Lombok Barat melewati masa sulit ini.





