Warung Mie Babi di Bandung, Penjualnya Pakai Peci dan Hijab. Bandung selalu dikenal sebagai kota kreatif dengan keberagaman kuliner yang mewarnai setiap sudutnya. Mulai dari makanan tradisional Sunda hingga hidangan modern kekinian, semuanya bisa ditemukan dengan mudah. Namun, ada satu warung sederhana yang kini menjadi perbincangan hangat warga lokal dan wisatawan. Bukan hanya karena rasanya yang lezat, tetapi juga karena keunikannya: sebuah warung mie babi yang justru dikelola oleh penjual yang memakai peci dan hijab.
Fenomena ini tentu mengejutkan banyak orang. Biasanya, warung yang menjual makanan berbahan dasar babi identik dengan pemilik atau koki dari kalangan tertentu. Namun, di warung kecil yang berlokasi di sebuah gang dekat pusat kota Bandung ini, stigma tersebut runtuh seketika. Pengunjung disambut oleh seorang pria berpeci dan seorang wanita berhijab yang bekerja sama meracik seporsi mie babi rumahan dengan rasa yang memikat.
Awal Mula Kemunculan Warung Unik Ini
Pemilik warung, pasangan suami istri bernama Dedi dan Sari, sebenarnya bukan konsumen babi. Mereka menjual mie babi sebagai bentuk kelanjutan usaha keluarga yang sudah berjalan puluhan tahun. Dedi bercerita bahwa usaha tersebut dulunya dimiliki oleh sahabat keluarga mereka keturunan Tionghoa yang merantau. Ketika sang pemilik pertama pindah ke luar negeri, usaha tersebut ditawarkan kepada Dedi dan Sari karena kedekatan mereka dan kemampuan keduanya dalam mengelola warung makan.
Awalnya, pasangan ini sempat ragu. Mereka memahami bahwa identitas mereka—dengan peci dan hijab—mungkin akan memunculkan kesalahpahaman. Namun, karena ingin mempertahankan resep turun-temurun dan menjaga keberlangsungan warung yang sudah menjadi legenda di kawasan tersebut, mereka akhirnya memutuskan untuk meneruskan usaha itu. Kejujuran dan keterbukaan menjadi modal utama mereka.
Transparansi Menjadi Kunci Kepercayaan
Salah satu hal yang membuat warung ini tetap ramai adalah transparansi mereka terhadap pelanggan. Di bagian depan warung terpasang papan besar yang menyatakan dengan jelas bahwa makanan yang dijual mengandung babi. Bahkan, area dapur dibuat semi terbuka sehingga pengunjung bisa melihat langsung proses pengolahan bahan dan penyajian hidangan.
Dedi dan Sari menjelaskan bahwa mereka tidak ingin ada pelanggan yang salah paham. Mereka menyadari bahwa sebagai muslim, banyak orang mungkin terkejut ketika melihat mereka mengelola usaha seperti ini. Namun, mereka selalu menegaskan bahwa pekerjaan ini adalah bentuk amanah menjaga usaha keluarga sahabat mereka, bukan karena mereka mengonsumsi produk yang dijual.
Kejujuran ini justru membuat banyak pelanggan merasa nyaman. Beberapa pengunjung non-muslim mengaku salut karena warung tersebut sangat menghargai keberagaman dan tidak menutupi identitas maupun jenis makanan yang dijual. Hal ini menciptakan suasana harmonis antara pemilik dan pelanggan yang datang dari latar belakang berbeda.
Cita Rasa yang Tetap Dipertahankan
Meski pemilik baru berbeda keyakinan dari pemilik lama, rasa mie babi di warung ini tetap otentik. Resep lama dijaga dengan ketat, mulai dari cara membuat minyak babi, bumbu racikannya, hingga cara merendam daging agar empuk dan beraroma khas. Bahkan, beberapa pelanggan setia menyebut bahwa rasa mie sekarang justru lebih konsisten dibandingkan sebelumnya karena pengelola baru lebih teliti dalam menjaga kebersihan dan standar penyajian.
Menu favoritnya adalah Mie Babi Original, disajikan dengan potongan daging babi cincang, char siu, pangsit rebus, dan kuah kaldu yang gurih. Ada juga pilihan mie kering, mie campur, dan beberapa variasi topping tambahan sesuai selera pelanggan.
Respons Masyarakat dan Viral di Media Sosial
Kehadiran warung ini sempat viral di media sosial. Banyak warganet yang terkejut melihat penjual berpeci dan berhijab menyajikan mie babi, namun sebagian besar komentar bernada positif. Mereka memuji sikap profesional pemilik warung serta kemampuan mereka menjembatani perbedaan budaya dan agama melalui kuliner.
Beberapa food vlogger bahkan datang langsung untuk mencoba, dan hasilnya hampir semua memberikan ulasan baik. Mereka menyoroti rasa mie yang enak, pelayanan ramah, serta keberanian pemilik untuk tetap jujur dan terbuka kepada pelanggan.
Kesimpulan
Warung mie babi di Bandung ini menjadi bukti bahwa kuliner bisa menjadi jembatan toleransi. Penjual berpeci dan berhijab bukanlah kontradiksi, melainkan simbol bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan ketika dijalani dengan kejujuran dan penghargaan satu sama lain. Di tengah masyarakat yang kerap terpolarisasi, keberanian Dedi dan Sari mengelola warung ini memberikan pelajaran bahwa pekerjaan dan identitas sering kali bisa berjalan bersama tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap keyakinan masing-masing.
Warung kecil ini tidak hanya menyajikan mie babi yang lezat, tetapi juga menyampaikan pesan tentang toleransi, keterbukaan, dan persahabatan antar budaya yang patut diapresiasi.



