Beranda / Peristiwa Daerah / TPA Bangli Gagal Jadi Pengganti Sementara TPA Suwung

TPA Bangli Gagal Jadi Pengganti Sementara TPA Suwung

TPA Bangli Gagal Jadi Pengganti Sementara TPA Suwung

TPA Bangli Gagal Jadi Pengganti Sementara TPA Suwung Rencana menjadikan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bangli sebagai pengganti sementara TPA Suwung di pastikan tidak dapat di laksanakan. Keputusan ini menambah panjang daftar tantangan Pemerintah Provinsi Bali dalam menangani persoalan sampah yang kian kompleks, khususnya di wilayah Bali selatan. TPA Suwung yang selama ini menjadi pusat pembuangan utama kawasan Sarbagita telah lama berada dalam kondisi kelebihan kapasitas.

Setiap hari, ribuan ton sampah dari Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan di buang ke TPA Suwung. Gunungan sampah yang terus bertambah memicu persoalan bau, potensi kebakaran, serta pencemaran lingkungan. Dalam situasi tersebut, pemerintah sempat mengkaji pemanfaatan TPA Bangli sebagai solusi sementara untuk mengurangi beban TPA Suwung.

Keterbatasan Kapasitas TPA Bangli Jadi Alasan Utama

Hasil kajian teknis menunjukkan bahwa TPA Bangli tidak memiliki kapasitas memadai untuk menerima limpahan sampah dari Bali selatan. Lokasi ini sejak awal di rancang untuk melayani kebutuhan Kabupaten Bangli, sehingga tambahan volume sampah dalam jumlah besar berisiko menimbulkan masalah baru.

Jika di paksakan, daya tampung yang terbatas di khawatirkan mempercepat penuhnya area pembuangan dan meningkatkan risiko pencemaran tanah serta air. Kondisi geografis Bangli yang berada di kawasan hulu juga menjadi pertimbangan penting, karena dampak lingkungan berpotensi meluas ke wilayah lain.

Persoalan Jarak dan Efisiensi Pengangkutan

Selain kapasitas, jarak tempuh pengangkutan sampah menjadi kendala serius. Pengiriman sampah dari Denpasar dan Badung ke Bangli membutuhkan waktu lebih lama di bandingkan ke TPA Suwung. Jalur yang menanjak dan berliku berpotensi memperlambat operasional armada sampah. TPA Bangli Gagal Jadi Pengganti Sementara TPA Suwung

Dari sisi anggaran, biaya bahan bakar, perawatan kendaraan, serta tenaga kerja diperkirakan meningkat signifikan. Pemerintah daerah menilai opsi ini tidak efisien dan justru dapat memicu penumpukan sampah di wilayah perkotaan apabila terjadi gangguan distribusi.

Penolakan Warga Sekitar TPA Bangli

Aspek sosial turut menjadi faktor penentu gagalnya rencana tersebut. Sebagian masyarakat di sekitar TPA Bangli menyampaikan penolakan terhadap rencana menjadikan wilayah mereka sebagai lokasi pembuangan sampah dari daerah lain. Kekhawatiran terhadap bau, pencemaran air tanah, dan meningkatnya aktivitas truk sampah menjadi alasan utama.

Masyarakat menilai Bangli sebagai daerah pertanian dan kawasan penyangga lingkungan tidak seharusnya menanggung beban sampah kawasan pariwisata. Pemerintah daerah menegaskan bahwa aspirasi warga harus menjadi pertimbangan utama agar tidak memicu konflik sosial di kemudian hari.

BACA JGUA : Modal BPD Bali Diusulkan Naik Rp 445 Miliar oleh Koster

Dampak bagi Pengelolaan Sampah Bali Selatan

Gagalnya TPA Bangli menjadi pengganti sementara TPA Suwung membuat pengelolaan sampah Bali selatan kembali berada di posisi rawan. TPA Suwung masih harus menampung volume sampah besar, sementara proses penataan dan pengurangan beban belum sepenuhnya optimal.

Jika tidak di tangani dengan cepat, kondisi ini berpotensi menimbulkan dampak serius, mulai dari gangguan kesehatan masyarakat hingga penurunan kualitas lingkungan di kawasan permukiman dan pariwisata. Sampah yang menumpuk juga berisiko merusak citra Bali sebagai destinasi wisata internasional.

Langkah Darurat yang Disiapkan Pemprov Bali

Sebagai respons, Pemprov Bali mulai menyiapkan langkah darurat dengan memperkuat pengelolaan sampah di tingkat hulu. Program pengurangan sampah dari sumber terus di dorong melalui pemilahan sampah rumah tangga dan penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di desa dan kelurahan.

Dengan menekan volume sampah yang masuk ke TPA, beban TPA Suwung di harapkan dapat berkurang secara bertahap. Pemerintah juga mendorong peran aktif desa adat dalam mengawasi pengelolaan sampah di wilayahnya masing-masing. Koordinasi lintas daerah, penguatan regulasi, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Pemerintah berharap momentum ini dapat mendorong perubahan nyata dalam sistem pengelolaan sampah Bali.

Teknologi Pengolahan Sampah Jadi Alternatif Jangka Menengah

Selain langkah darurat, pemerintah mengkaji pemanfaatan teknologi pengolahan sampah modern sebagai solusi jangka menengah. Teknologi seperti pengomposan terpusat, pengolahan sampah menjadi bahan bakar alternatif, hingga sistem pengolahan termal mulai di pertimbangkan.

Meski memerlukan investasi dan waktu, pendekatan ini di nilai lebih berkelanjutan di bandingkan sekadar memindahkan lokasi pembuangan. Pemerintah berharap solusi teknologi dapat menjadi jawaban atas keterbatasan lahan TPA di Bali. Gagalnya rencana pemanfaatan TPA Bangli juga menegaskan pentingnya tanggung jawab kabupaten dan kota dalam mengelola sampahnya sendiri. Pemprov Bali menekankan bahwa setiap daerah harus memiliki sistem pengelolaan sampah yang mandiri dan terintegrasi.

Momentum Evaluasi Menuju Pengelolaan Berkelanjutan TPA Bangli

Kegagalan menjadikan TPA Bangli sebagai pengganti sementara TPA Suwung menjadi momentum evaluasi menyeluruh. Bali di tuntut untuk tidak lagi bergantung pada satu TPA besar, melainkan membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan dan berbasis pengurangan dari sumber.

Dengan komitmen bersama antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya, Bali di harapkan mampu keluar dari krisis sampah yang berulang dan menjaga kelestarian lingkungan untuk generasi mendatang.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *