Maling Uang Kepeng Sasar Pura di Karangasem Hingga Warga Resah Kasus pencurian uang kepeng yang menyasar pura-pura di Kabupaten Karangasem, Bali, belakangan ini kian marak dan meresahkan warga. Uang kepeng yang selama ini di gunakan sebagai sarana upacara adat dan perlengkapan ritual keagamaan justru menjadi sasaran maling. Aksi pencurian tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga melukai perasaan umat karena terjadi di tempat suci.
Beberapa pura di laporkan menjadi korban dalam waktu yang relatif berdekatan. Modus yang di gunakan pelaku pun terbilang beragam, mulai dari mengambil uang kepeng yang di simpan di pelinggih, gudang perlengkapan upacara, hingga tempat penyimpanan khusus milik desa adat. Kondisi ini membuat masyarakat semakin waspada dan khawatir akan keamanan pura.
Uang Kepeng Bernilai Sakral dan Ekonomis
Uang kepeng memiliki nilai yang sangat penting bagi masyarakat Bali, khususnya dalam kegiatan adat dan keagamaan. Selain digunakan sebagai sarana upacara, uang kepeng juga memiliki nilai historis dan simbolis yang tinggi. Dalam beberapa ritual, uang kepeng dianggap sebagai perlambang keseimbangan dan keharmonisan.
Di sisi lain, tingginya permintaan uang kepeng di pasaran turut meningkatkan nilai ekonominya. Kondisi ini di duga menjadi salah satu alasan uang kepeng menjadi incaran pelaku kejahatan. Harga uang kepeng yang relatif mahal, terutama yang sudah di rangkai atau berusia tua, membuatnya mudah di jual kembali secara ilegal. Maling Uang Kepeng Sasar Pura di Karangasem Hingga Warga Resah
Kronologi dan Modus Pencurian Maling Uang
Berdasarkan keterangan warga, pencurian umumnya terjadi pada malam hari atau saat kondisi pura sedang sepi. Pelaku di duga sudah memahami situasi lingkungan sekitar, termasuk waktu penjagaan yang longgar. Beberapa warga mencurigai pelaku merupakan orang yang mengenal kondisi pura atau setidaknya memahami tata letak bangunan.
Dalam beberapa kasus, pelaku tidak merusak bangunan pura secara mencolok, melainkan mengambil uang kepeng secara diam-diam. Hal ini membuat pencurian baru di ketahui setelah warga atau pengurus pura melakukan pengecekan perlengkapan upacara. Ketika di ketahui, uang kepeng yang tersisa hanya sebagian kecil atau bahkan sudah habis.
Warga dan Pengurus Pura Diliputi Kecemasan
Maraknya pencurian uang kepeng membuat warga Karangasem merasa resah. Bagi masyarakat adat, hilangnya sarana upacara bukan hanya soal kerugian materi, tetapi juga menyangkut kesiapan pelaksanaan yadnya dan kesucian pura. Pengurus pura terpaksa bekerja ekstra untuk memastikan perlengkapan upacara tetap tersedia.
Sebagian warga mengaku kini lebih sering mengecek kondisi pura, terutama menjelang hari-hari besar keagamaan. Bahkan, ada desa adat yang mulai membatasi akses ke area tertentu dan memindahkan penyimpanan uang kepeng ke tempat yang di anggap lebih aman. Namun, langkah ini di nilai belum sepenuhnya efektif tanpa dukungan sistem keamanan yang memadai.
BACA JUGA : Banjir Pancasari Mulai Surut Pembersihan Material Dilakukan
Upaya Pengamanan oleh Desa Adat
Sebagai langkah antisipasi, sejumlah desa adat di Karangasem mulai meningkatkan sistem keamanan pura. Upaya yang di lakukan antara lain dengan mengaktifkan kembali ronda malam, memasang lampu penerangan tambahan, serta memperketat pengawasan terhadap orang asing yang keluar masuk area pura.
Beberapa desa juga mulai mempertimbangkan penggunaan kamera pengawas atau CCTV, meskipun terkendala biaya. Selain itu, penyimpanan uang kepeng kini di atur lebih ketat, tidak lagi di biarkan di area terbuka atau tempat yang mudah di akses. Langkah-langkah ini di harapkan dapat mempersempit ruang gerak pelaku pencurian.
Harapan pada Aparat Penegak Hukum Maling Uang
Warga berharap aparat kepolisian dapat segera mengungkap pelaku pencurian uang kepeng yang menyasar pura-pura di Karangasem. Penindakan tegas di nilai penting untuk memberikan efek jera dan mengembalikan rasa aman di tengah masyarakat. Selain itu, pengungkapan kasus juga di harapkan dapat memutus mata rantai penjualan uang kepeng hasil curian.
Masyarakat juga di minta untuk aktif melaporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan di sekitar pura. Kerja sama antara warga, desa adat, dan aparat penegak hukum di nilai menjadi kunci utama dalam menekan angka pencurian.
Maling Uang Dampak Sosial dan Spiritualitas
Pencurian di tempat suci menimbulkan dampak yang lebih luas di bandingkan kejahatan biasa. Selain merugikan secara materi, tindakan ini mencederai nilai-nilai spiritual dan adat yang di junjung tinggi oleh masyarakat Bali. Rasa aman dan khusyuk dalam beribadah pun terganggu akibat kekhawatiran yang terus membayangi.
Warga berharap kejadian serupa tidak terus berulang. Mereka menilai perlunya kesadaran bersama untuk menjaga dan melindungi tempat suci sebagai warisan budaya dan spiritual yang tak ternilai.
Harapan Keamanan Pura Kembali Terjaga
Dengan meningkatnya kewaspadaan dan kerja sama berbagai pihak, masyarakat Karangasem berharap keamanan pura dapat kembali terjaga. Pura bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat kehidupan sosial dan adat yang harus di lindungi bersama.
Kasus pencurian Uang kepeng ini di harapkan menjadi momentum untuk memperkuat sistem keamanan desa adat sekaligus mengingatkan semua pihak akan pentingnya menjaga kesucian tempat ibadah dari tindakan yang merugikan dan mencederai nilai budaya Bali.





