Bahaya Mengintai di Balik Kebiasaan Menahan Kencing. Seringkali karena alasan kesibukan, perjalanan jauh, atau enggan menggunakan toilet umum, seseorang memilih untuk menunda dan menahan dorongan buang air kecil. Kebiasaan sepele ini, yang dilakukan sesekali atau bahkan secara rutin, sering dianggap tidak berbahaya. Padahal, menahan kencing adalah praktik yang dapat memicu serangkaian masalah kesehatan serius, mulai dari infeksi saluran kemih (ISK) yang menyakitkan hingga kerusakan permanen pada sistem urinaria.
Tubuh manusia, khususnya sistem perkemihan, dirancang untuk berfungsi secara teratur. Ketika kandung kemih terisi hingga volume tertentu (sekitar 150-200 ml), saraf mengirimkan sinyal ke otak untuk memicu dorongan buang air kecil. Mengabaikan sinyal alami ini sama dengan memaksa tubuh bekerja di luar batas kemampuannya.
1. Peningkatan Risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK)
Bahaya yang paling umum dan cepat terjadi akibat menahan kencing adalah Infeksi Saluran Kemih (ISK). Urin atau air seni pada dasarnya adalah produk buangan yang membawa serta bakteri dan zat sisa metabolisme. Kandung kemih berfungsi sebagai wadah penampung sementara.
Ketika kita menahan kencing, urin akan tertahan lebih lama di dalam kandung kemih. Kondisi urin yang hangat dan statis (tidak bergerak) adalah lingkungan ideal bagi bakteri—terutama E. coli yang mungkin sudah ada di sana—untuk berkembang biak dengan cepat.
Semakin lama urin tertahan, semakin besar populasi bakteri yang tumbuh, yang akhirnya menyerang dinding kandung kemih dan uretra. Gejala ISK ini meliputi rasa nyeri atau perih saat buang air kecil (disuria), dorongan untuk buang air kecil yang sering, dan nyeri pada perut bagian bawah.
2. Peregangan Berlebihan pada Kandung Kemih
Kandung kemih adalah organ berotot yang elastis. Normalnya, kandung kemih dapat menampung urin hingga 400-500 ml pada orang dewasa. Ketika seseorang menahan kencing jauh melebihi batas ini secara berulang, otot-otot kandung kemih akan teregang secara berlebihan.
Peregangan kronis ini dapat menyebabkan otot detrusor (otot utama kandung kemih) melemah dan kehilangan elastisitasnya. Akibatnya, kandung kemih akan sulit berkontraksi dengan kuat saat waktunya buang air kecil. Kondisi ini dikenal sebagai retensi urin kronis atau kandung kemih neurogenik (malfungsi saraf). Dalam kasus terparah, penderita mungkin tidak mampu mengosongkan kandung kemih sepenuhnya, meninggalkan sisa urin yang semakin meningkatkan risiko ISK dan komplikasi lainnya.
3. Batu Ginjal dan Inkontinensia
Menahan kencing dapat memperburuk kondisi pembentukan batu ginjal. Urin mengandung mineral dan garam yang ketika menumpuk dan tidak dikeluarkan dapat mengkristal menjadi batu. Ketika urin tertahan dalam waktu lama, konsentrasi mineral ini menjadi lebih pekat, mempercepat proses kristalisasi dan pembentukan batu ginjal maupun batu kandung kemih. Batu-batu ini dapat menyebabkan rasa sakit yang hebat dan menyumbat saluran kemih.
Selain itu, pelemahan otot kandung kemih juga terkait dengan masalah inkontinensia urin (kebocoran urin). Otot-otot sfingter yang bertugas menutup saluran kencing bisa menjadi lemah akibat tekanan yang terus-menerus. Akibatnya, urin dapat bocor tanpa di sadari, terutama saat batuk, bersin, atau tertawa.
4. Komplikasi Serius: Pielonefritis dan Gagal Ginjal
Risiko paling berbahaya terjadi ketika infeksi dari kandung kemih (sistitis) tidak diobati dan menyebar ke ginjal, menyebabkan kondisi yang disebut pielonefritis. Infeksi ginjal adalah kondisi serius yang dapat menyebabkan kerusakan permanen pada ginjal.
Jika terjadi sumbatan total akibat menahan kencing yang ekstrem atau komplikasi lain (seperti batu), tekanan di dalam kandung kemih bisa meningkat drastis. Tekanan tinggi ini dapat mendorong urin kembali naik ke ureter dan mencapai ginjal (refluks vesikoureteral). Urin yang terkontaminasi bakteri dan tekanan balik ini dapat merusak nefron—unit penyaring di ginjal—sehingga pada akhirnya berpotensi menyebabkan gagal ginjal akut atau kronis.
Kapan Harus Khawatir?
Anda harus segera mencari pertolongan medis jika mengalami gejala-gejala berikut:
-
Nyeri hebat dan mendadak di perut bagian bawah atau pinggang.
-
Tidak bisa buang air kecil sama sekali meskipun ada dorongan kuat (retensi urin akut).
-
Demam, menggigil, dan mual yang di sertai nyeri saat kencing (tanda infeksi ginjal).
Para ahli kesehatan menyarankan agar kita tidak menahan kencing lebih dari 3–4 jam sekali. Mendengarkan sinyal alami tubuh adalah cara terbaik untuk menjaga kesehatan sistem perkemihan. Prioritaskan untuk mencari toilet dan buang air kecil segera setelah dorongan itu muncul demi menghindari serangkaian risiko kesehatan yang mengintai.





