Sengketa Lahan Jimbaran, DPRD Bali Lakukan Ukur Ulang Sengketa lahan di kawasan Jimbaran, Kabupaten Badung, kembali mencuat dan menarik perhatian publik. Persoalan ini melibatkan klaim kepemilikan lahan yang hingga kini belum menemukan titik temu antara para pihak yang bersengketa. Menyikapi hal tersebut, DPRD Provinsi Bali turun tangan dengan melakukan langkah konkret berupa pengukuran ulang lahan untuk memastikan kejelasan batas dan status kepemilikan.
Langkah DPRD Bali Menjembatani Konflik
DPRD Bali memandang sengketa lahan Jimbaran perlu ditangani secara hati-hati dan transparan. Pengukuran ulang dilakukan sebagai upaya menjembatani konflik agar tidak berlarut-larut dan menimbulkan dampak sosial yang lebih luas. DPRD menegaskan bahwa langkah ini bukan untuk memihak salah satu pihak, melainkan mencari kejelasan data di lapangan sebagai dasar penyelesaian yang adil. Sengketa Lahan Jimbaran, DPRD Bali Lakukan Ukur Ulang
Proses Ukur Ulang Libatkan Berbagai Pihak
Dalam proses ukur ulang, DPRD Bali melibatkan berbagai instansi terkait, termasuk Badan Pertanahan Nasional (BPN), pemerintah daerah setempat, serta perwakilan dari pihak-pihak yang bersengketa. Keterlibatan lintas lembaga ini dinilai penting agar hasil pengukuran memiliki legitimasi hukum dan dapat di pertanggungjawabkan. Pengukuran di lakukan secara terbuka agar seluruh pihak dapat menyaksikan langsung prosesnya.
BACA JUGA : Bali United Menang Tipis 1-0 Atas Arema
Mengurai Persoalan Batas dan Dokumen
Salah satu akar permasalahan sengketa lahan Jimbaran adalah perbedaan data batas lahan dan dokumen kepemilikan. Tumpang tindih sertifikat dan ketidaksesuaian peta bidang sering kali menjadi pemicu konflik. Melalui ukur ulang, di harapkan batas lahan dapat di petakan secara akurat sehingga memperjelas klaim masing-masing pihak berdasarkan data faktual.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Sengketa lahan tidak hanya berdampak pada pihak yang bersengketa, tetapi juga berpengaruh terhadap lingkungan sosial dan ekonomi di sekitarnya. Jimbaran sebagai kawasan strategis pariwisata memiliki nilai ekonomi tinggi. Ketidakpastian status lahan berpotensi menghambat investasi, pembangunan, serta aktivitas masyarakat. DPRD Bali menilai penyelesaian sengketa ini penting untuk menjaga iklim investasi dan stabilitas sosial di kawasan tersebut.
Harapan terhadap Penyelesaian Berkeadilan
DPRD Bali berharap hasil ukur ulang dapat menjadi pijakan kuat dalam proses penyelesaian sengketa lahan Jimbaran. Data yang objektif di harapkan mampu meminimalkan perbedaan tafsir dan membuka ruang dialog yang lebih konstruktif antar pihak. Penyelesaian yang berkeadilan di nilai penting agar tidak ada pihak yang di rugikan dan konflik tidak berulang di kemudian hari.
Sengketa Peran Mediasi dan Jalur Hukum
Selain pengukuran ulang, DPRD Bali juga mendorong penyelesaian sengketa melalui jalur mediasi. Dialog antara pihak-pihak yang bersengketa di nilai lebih efektif untuk mencapai kesepakatan damai. Namun, apabila upaya mediasi tidak membuahkan hasil, jalur hukum tetap menjadi opsi terakhir yang harus di tempuh sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Sengketa Komitmen DPRD Awasi Tindak Lanjut
DPRD Bali menegaskan komitmennya untuk terus mengawal proses penyelesaian sengketa lahan Jimbaran hingga tuntas. Pengawasan terhadap tindak lanjut hasil ukur ulang akan di lakukan agar rekomendasi yang di hasilkan benar-benar di implementasikan. DPRD berharap kasus ini dapat menjadi pembelajaran dalam penanganan sengketa lahan di Bali agar ke depan konflik serupa dapat di minimalkan.
Sengketa Menuju Kepastian Hukum dan Ketertiban Lahan
Langkah ukur ulang lahan yang di lakukan DPRD Bali menjadi upaya penting menuju kepastian hukum dan ketertiban administrasi pertanahan. Dengan kejelasan batas dan status lahan, di harapkan sengketa dapat di selesaikan secara damai dan berkeadilan. Kepastian hukum ini tidak hanya memberikan rasa aman bagi masyarakat, tetapi juga mendukung pembangunan Bali yang tertib, harmonis, dan berkelanjutan.





