Tradisi & Budaya Ngrembug serta Lemahnya Posisi Seorang Perempuan di Bali Dalam kehidupan masyarakat Bali, ngrembug dikenal sebagai tradisi musyawarah untuk membahas berbagai persoalan adat dan sosial. Tradisi ini biasanya dilakukan dalam forum banjar atau desa adat, di mana keputusan di ambil secara kolektif demi kepentingan bersama. Ngrembug memiliki nilai luhur karena mengedepankan kebersamaan, mufakat, dan keharmonisan sosial.
Namun, di balik nilai kebersamaan tersebut, praktik ngrembug kerap memunculkan di namika sosial yang tidak selalu setara bagi semua pihak, khususnya perempuan.
Tradisi & Budaya Dominasi Laki-laki dalam Forum Adat
Secara tradisional, forum ngrembug lebih banyak di hadiri dan di dominasi oleh laki-laki. Posisi laki-laki sebagai kepala keluarga dan krama adat membuat mereka menjadi aktor utama dalam pengambilan keputusan. Sementara itu, perempuan sering kali hanya berperan di ranah domestik atau pendukung kegiatan adat.
Kondisi ini menyebabkan suara dan perspektif perempuan jarang terdengar dalam proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada kehidupan mereka.
BACA JUGA : Pemkab Tabanan Tegaskan Komitmen Pertahankan Nilai PBB Tetap Stabil
Tradisi & Budaya Lemahnya Posisi Perempuan dalam Struktur Sosial
Lemahnya posisi perempuan dalam tradisi ngrembug tidak terlepas dari struktur sosial patriarkal yang masih kuat. Dalam banyak kasus, perempuan tidak memiliki hak suara langsung atau di anggap cukup di wakili oleh suami atau anggota keluarga laki-laki.
Akibatnya, kebijakan adat yang di hasilkan sering kali kurang mempertimbangkan kebutuhan, beban, dan pengalaman perempuan, terutama dalam hal pembagian peran, kewajiban adat, dan akses terhadap sumber daya.
Tradisi & Budaya Peran Perempuan yang Besar, Pengakuan yang Minim
Ironisnya, di balik keterbatasan ruang bicara, perempuan Bali memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga keberlangsungan adat dan budaya. Mereka aktif dalam upacara keagamaan, persiapan sarana upacara, serta menjaga keharmonisan keluarga dan komunitas.
Namun, kontribusi besar tersebut belum sepenuhnya di imbangi dengan pengakuan dan keterlibatan setara dalam forum-forum pengambilan keputusan adat seperti ngrembug. Tradisi & Budaya Ngrembug serta Lemahnya Posisi Seorang Perempuan di Bali
Perubahan Sosial dan Tantangan Budaya
Seiring perkembangan zaman, mulai muncul kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender dalam kehidupan adat. Beberapa desa adat di Bali telah membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi perempuan untuk terlibat dalam musyawarah dan organisasi adat.
Meski demikian, perubahan ini tidak selalu berjalan mulus. Tantangan budaya, pandangan konservatif, dan kekhawatiran akan hilangnya tradisi sering menjadi alasan untuk mempertahankan pola lama.
Mencari Titik Temu antara Tradisi dan Kesetaraan
Upaya memperkuat posisi perempuan dalam tradisi ngrembug tidak harus di maknai sebagai upaya menghapus adat. Sebaliknya, hal ini dapat di lakukan dengan mencari titik temu antara pelestarian tradisi dan nilai kesetaraan.
Pemberian ruang bagi perempuan untuk menyampaikan pendapat, keterlibatan dalam pengambilan keputusan, serta pengakuan terhadap peran mereka dapat memperkaya proses ngrembug dan menghasilkan keputusan yang lebih inklusif.
Menuju Tradisi yang Lebih Inklusif
Tradisi ngrembug memiliki potensi besar sebagai ruang dialog yang adil dan bijaksana. Dengan membuka ruang partisipasi yang lebih setara bagi perempuan, tradisi ini dapat berkembang menjadi cerminan masyarakat Bali yang harmonis, berkeadilan, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Penguatan posisi perempuan dalam tradisi dan budaya bukanlah ancaman, melainkan langkah penting untuk menjaga relevansi adat Bali di tengah dinamika sosial modern.





