Beranda / Budaya dan Adat / Lebih Dekat dengan Nyama Selam: Sejarah Terbentuknya Kelompok Muslim di Pulau Dewata

Lebih Dekat dengan Nyama Selam: Sejarah Terbentuknya Kelompok Muslim di Pulau Dewata

Lebih Dekat dengan Nyama Selam: Sejarah Terbentuknya Kelompok Muslim di Pulau Dewata

Lebih Dekat dengan Nyama Selam: Sejarah Terbentuknya Kelompok Muslim di Pulau Dewata Istilah Nyama Selam telah lama di kenal dalam kehidupan sosial masyarakat Bali. Secara sederhana, Nyama Selam merujuk pada saudara atau komunitas Muslim yang hidup berdampingan dengan masyarakat Hindu Bali. Kata nyama berarti saudara, sementara selam merujuk pada Islam. Penyebutan ini mencerminkan hubungan kekerabatan dan penghormatan, bukan sekadar penanda perbedaan keyakinan.

Keberadaan Nyama Selam menjadi bagian penting dari wajah multikultural Bali yang di kenal harmonis.

Jejak Awal Masuknya Islam ke Bali

Sejarah mencatat bahwa Islam mulai masuk ke Bali sejak abad ke-14 hingga ke-16, seiring berkembangnya jalur perdagangan di Nusantara. Para pedagang Muslim dari Jawa, Bugis, Makassar, dan Melayu datang ke Bali membawa komoditas sekaligus ajaran agama.

Sebagian dari mereka menetap dan membentuk komunitas kecil di wilayah pesisir dan pusat kerajaan. Hubungan dagang yang baik membuat kehadiran mereka di terima oleh penguasa Bali pada masa itu.

Peran Kerajaan Bali dalam Pembentukan Komunitas Muslim

Pada masa kerajaan, sejumlah raja Bali memberikan ruang hidup bagi komunitas Muslim. Mereka bahkan di percaya menempati posisi strategis, seperti prajurit, pengawal kerajaan, hingga ahli persenjataan. Sebagai bentuk penghargaan, para raja memberikan lahan pemukiman yang kemudian berkembang menjadi kampung-kampung Muslim.

Beberapa kampung tersebut masih eksis hingga kini, seperti Kampung Gelgel di Klungkung dan Kampung Loloan di Jembrana.

BACA JUGA : Pucuk Pimpinan Korem 173/PVB Kini Dijabat Brigjen TNI I Ketut Mertha Gunarda

Akulturasi Budaya yang Terjalin Erat

Salah satu keunikan Nyama Selam di Bali adalah kuatnya proses akulturasi budaya. Komunitas Muslim Bali tetap menjalankan ajaran Islam, namun dalam kehidupan sosial mereka mengadopsi nilai-nilai lokal Bali, seperti penggunaan bahasa Bali, sistem banjar, hingga keterlibatan dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Sebaliknya, masyarakat Hindu Bali juga menunjukkan sikap toleran dengan menghormati praktik keagamaan umat Muslim, termasuk saat perayaan hari besar Islam. Lebih Dekat dengan Nyama Selam: Sejarah Terbentuknya Kelompok Muslim di Pulau Dewata

Nyama Selam dalam Kehidupan Bali Modern

Di era modern, Nyama Selam terus memainkan peran penting dalam menjaga harmoni sosial di Bali. Mereka terlibat aktif dalam berbagai bidang, mulai dari perdagangan, pendidikan, seni budaya, hingga pemerintahan. Identitas sebagai Muslim dan sebagai orang Bali berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.

Tradisi saling menghormati dan gotong royong menjadi landasan kuat hubungan antarumat beragama di Pulau Dewata.

Tantangan dan Upaya Menjaga Keharmonisan

Meski di kenal harmonis, dinamika sosial dan pengaruh global tetap menjadi tantangan bagi keberlangsungan nilai toleransi. Oleh karena itu, dialog antarbudaya dan pendidikan multikultural terus diperlukan untuk menjaga warisan kebersamaan ini.

Peran tokoh adat, tokoh agama, dan generasi muda sangat penting dalam merawat nilai-nilai persaudaraan yang telah di wariskan sejak berabad-abad lalu.

Lebih Dekat Dengan Nyama Warisan Toleransi yang Patut Dijaga

Keberadaan Nyama Selam di Bali bukan hanya catatan sejarah, tetapi juga cerminan nyata kehidupan plural yang damai. Sejarah panjang kebersamaan ini menjadi bukti bahwa perbedaan keyakinan dapat hidup berdampingan dalam semangat saling menghormati.

Nyama Selam adalah bagian tak terpisahkan dari Bali—sebuah warisan toleransi yang patut di jaga dan di teruskan kepada generasi mendatang.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *