Banjir Rob Rusak Lima Rumah Warga Bugis Mataram. Banjir ini kembali melanda kawasan pesisir Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Kali ini, wilayah Bugis menjadi salah satu daerah yang terdampak cukup serius. Air laut pasang yang masuk ke permukiman warga mengakibatkan lima rumah mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga meningkatkan kekhawatiran masyarakat terhadap ancaman banjir rob yang semakin sering terjadi. Fenomena banjir rob di kawasan pesisir Mataram bukanlah kejadian baru. Namun, intensitas dan dampaknya yang kian meningkat menandakan adanya persoalan lingkungan dan tata ruang yang perlu mendapat perhatian lebih serius dari berbagai pihak.
Banjir Rob Kembali Melanda Wilayah Bugis
Banjir rob terjadi akibat naiknya permukaan air laut yang masuk ke daratan melalui saluran air dan celah-celah pemukiman warga. Pada saat kejadian, air laut mulai naik sejak dini hari dan mencapai puncaknya pada pagi hari, sehingga merendam sejumlah rumah warga di kawasan Bugis. Kondisi ini di perparah oleh gelombang laut yang cukup tinggi serta sistem drainase yang tidak mampu menahan debit air laut. Akibatnya, air menggenangi rumah warga dengan ketinggian mencapai 30 hingga 50 sentimeter.
Air Laut Masuk Hingga ke Dalam Rumah
Air rob tidak hanya menggenangi halaman rumah, tetapi juga masuk ke ruang tamu, dapur, hingga kamar tidur warga. Perabot rumah tangga seperti lemari, kasur, dan peralatan elektronik terendam air asin, sehingga banyak yang mengalami kerusakan permanen. Selain itu, genangan air laut juga meninggalkan endapan lumpur dan sampah, yang membuat kondisi rumah menjadi kotor dan tidak layak huni untuk sementara waktu.
Aktivitas Warga Lumpuh Sementara
Akibat banjir rob, aktivitas warga di kawasan Bugis sempat terganggu. Beberapa warga terpaksa tidak bekerja karena harus membersihkan rumah dan menyelamatkan barang-barang yang masih bisa di gunakan. Anak-anak pun tidak bisa beraktivitas seperti biasa karena lingkungan sekitar rumah tergenang air. Situasi ini menambah beban psikologis warga, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah paling dekat dengan garis pantai.
Lima Rumah Warga Mengalami Kerusakan
Berdasarkan data sementara dari aparat setempat, sedikitnya lima rumah warga mengalami kerusakan akibat terjangan banjir rob. Kerusakan tersebut meliputi dinding rumah yang lembap dan retak, lantai yang terkelupas, serta perabot rumah tangga yang rusak akibat air laut. Meskipun tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini, kerugian material yang di alami warga terbilang cukup besar.
Kerusakan Struktur Bangunan
Beberapa rumah mengalami kerusakan pada bagian pondasi dan dinding akibat terus-menerus terpapar air laut. Air asin yang masuk ke dalam rumah dapat mempercepat proses pelapukan material bangunan, terutama pada rumah yang masih menggunakan bahan sederhana. Jika kondisi ini terus berulang, di khawatirkan bangunan rumah akan semakin rapuh dan berisiko roboh.
Barang Elektronik dan Perabot Tak Terselamatkan
Selain struktur bangunan, barang-barang elektronik seperti televisi, kulkas, dan mesin cuci menjadi korban banjir rob. Air laut yang mengandung garam menyebabkan peralatan tersebut tidak dapat di gunakan kembali. Perabot berbahan kayu pun mengalami kerusakan serius akibat terendam air dalam waktu yang cukup lama.
BACA LAINNYA : Ibu Korban Banjir Kuwum Tabanan Di temukan Tewas
Keluhan Banjir Rob dan Harapan Warga Bugis
Warga Bugis mengaku pasrah namun tetap berharap adanya solusi jangka panjang dari pemerintah. Mereka menyebutkan bahwa banjir rob kini semakin sering terjadi, terutama saat musim pasang laut dan cuaca ekstrem. Bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir, kondisi ini sudah menjadi ancaman rutin yang harus di hadapi setiap tahun.
Warga Minta Penanganan Serius Banjir Rob
Sejumlah warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, seperti pembangunan tanggul laut, peningkatan sistem drainase, serta penataan kawasan pesisir. Mereka menilai bahwa penanganan sementara tidak lagi cukup untuk mengatasi persoalan banjir rob yang terus berulang. Selain itu, warga juga berharap adanya bantuan bagi mereka yang rumahnya mengalami kerusakan, baik berupa bantuan material maupun perbaikan rumah.
Kekhawatiran Akan Dampak Banjir Rob Jangka Panjang
Selain kerusakan fisik, warga juga khawatir terhadap dampak kesehatan akibat genangan air laut. Lingkungan yang lembap dan kotor berpotensi menimbulkan berbagai penyakit, seperti infeksi kulit dan gangguan pernapasan. Oleh karena itu, warga berharap adanya perhatian lebih terhadap aspek kesehatan pascabanjir.
Peran Pemerintah dan Upaya Penanganan Banjir Rob
Pemerintah setempat melalui aparat kelurahan dan kecamatan telah melakukan pendataan terhadap rumah warga yang terdampak. Selain itu, petugas juga membantu warga membersihkan sisa genangan dan lumpur yang masuk ke permukiman. Namun demikian, upaya ini di nilai masih bersifat tanggap darurat dan belum menyentuh akar permasalahan.
Langkah Darurat Pasca Banjir Rob
Langkah awal yang di lakukan meliputi pembersihan lingkungan, pengecekan kondisi rumah, serta pemberian imbauan kepada warga untuk tetap waspada terhadap potensi banjir rob susulan. Pemerintah juga berkoordinasi dengan instansi terkait untuk memantau kondisi pasang surut air laut. Langkah ini penting untuk meminimalkan dampak lanjutan yang mungkin terjadi.
Perlunya Solusi Jangka Panjang
Ke depan, di perlukan solusi jangka panjang yang berkelanjutan untuk melindungi kawasan pesisir Bugis dari ancaman banjir rob. Penataan ulang wilayah pesisir, pembangunan infrastruktur pelindung pantai, serta peningkatan kesadaran lingkungan menjadi hal yang tidak bisa di tunda lagi. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait sangat di butuhkan agar masalah banjir rob dapat di tangani secara menyeluruh.
Ancaman Banjir Rob di Masa Mendatang
Peristiwa banjir ini yang merusak lima rumah warga Bugis Mataram menjadi pengingat bahwa perubahan iklim dan kenaikan permukaan air laut adalah ancaman nyata. Tanpa penanganan yang tepat, dampak yang di timbulkan bisa semakin luas dan merugikan masyarakat pesisir. Oleh sebab itu, upaya pencegahan dan mitigasi harus menjadi prioritas, agar warga pesisir dapat hidup dengan aman dan nyaman di masa depan.





