Beranda / PERISTIWA / Terpecahkan, Penyebab 22 Korban Tewas dalam Kebakaran Gedung Terra Drone

Terpecahkan, Penyebab 22 Korban Tewas dalam Kebakaran Gedung Terra Drone

Terpecahkan, Penyebab 22 Korban Tewas dalam Kebakaran Gedung Terra Drone.

Insiden kebakaran yang menimpa Gedung Terra Drone akhirnya mencapai titik terang setelah tim investigasi gabungan merampungkan rangkaian analisis teknis, forensik, dan pemodelan kebakaran. Tragedi yang menewaskan 22 orang dan melukai puluhan lainnya itu sempat menjadi perhatian nasional karena terjadi sangat cepat dan di anggap tidak sesuai dengan standar keselamatan bangunan modern. Laporan akhir yang di rilis menunjukkan bahwa kombinasi antara kegagalan teknis, kelalaian operasional, serta kurangnya kesiapan evakuasi menjadi faktor dominan yang memperburuk skala bencana.

Awal Mula Kebakaran

Berdasarkan penyelidikan, kebakaran bermula dari korsleting pada panel distribusi listrik lantai tiga yang mengalami kenaikan suhu di luar batas toleransi. Panel tersebut ternyata telah menunjukkan tanda-tanda keausan sejak beberapa bulan sebelumnya, tetapi pergantian komponen di tunda karena alasan efisiensi biaya dan penjadwalan ulang perawatan. Ketika arus listrik melonjak pada siang hari, percikan api muncul dan langsung mengenai material akustik berbahan busa yang mudah terbakar.

Material tersebut, meskipun lazim di gunakan di banyak gedung perkantoran, seharusnya memiliki sertifikasi tahan api. Namun, hasil uji laboratorium menemukan bahwa lapisan perlindungan tahan panasnya telah menurun drastis akibat umur pakai yang melebihi masa rekomendasi.

Penyebaran Api yang Sangat Cepat

Elemen yang paling mengejutkan penyidik adalah cepatnya penyebaran api. Dalam hitungan menit, api meluas ke koridor utama dan ruang server yang memiliki banyak kabel serta perangkat elektronik. Ruang server yang seharusnya di lengkapi sistem pemadam otomatis ternyata sedang dalam proses perbaikan, sehingga seluruh mekanisme supresi kebakaran nonaktif pada hari kejadian.

Tanpa adanya penahan api yang memadai, api bergerak vertikal melalui shaft kabel dan saluran udara, mencapai lantai atas dan memutus akses evakuasi beberapa pegawai. Jalur tangga darurat utama di penuhi asap lebat, sementara tangga alternatif terblokir akibat runtuhnya sebagian plafon.

Kegagalan Sistem Peringatan Dini

Laporan investigasi mengungkap fakta lain yang memperburuk situasi: alarm kebakaran tidak berbunyi secara serempak. Sensor asap di beberapa titik penting terlambat merespons, di duga akibat penumpukan debu dan kurangnya pemeriksaan rutin. Akibatnya, banyak penghuni gedung baru menyadari kebakaran setelah asap mulai memasuki ruang kerja.

Selain itu, pelatihan evakuasi tahunan ternyata belum di laksanakan selama dua periode terakhir karena padatnya jadwal perusahaan. Banyak karyawan tidak mengetahui rute evakuasi alternatif, sehingga terjadi penumpukan massa di satu titik tangga darurat yang kemudian tertutup asap tebal dan panas ekstrem.

Faktor Human Error dan Kurangnya Kesiapan

Meskipun penyebab teknis menjadi pemicu utama, faktor manusia turut memberikan kontribusi signifikan. Beberapa saksi mengungkap bahwa sejumlah pegawai sempat mengemas barang pribadi sebelum mengungsi, memperlambat proses evakuasi. Ada pula yang tidak segera mengikuti instruksi awal karena menduga kebakaran hanyalah insiden kecil yang dapat di tangani petugas internal.

Koordinasi tim keamanan gedung juga belum optimal. Ketidaksinkronan informasi antara lantai dasar dan lantai atas menyebabkan beberapa penghuni terlambat mendapatkan instruksi resmi. Kondisi ini memperparah jumlah korban yang terjebak di beberapa ruangan.

Implikasi dan Rekomendasi Keselamatan

Setelah penyebab tragedi berhasil di identifikasi, pemerintah daerah bersama otoritas terkait menekankan kembali pentingnya kepatuhan terhadap standar keselamatan bangunan, termasuk inspeksi berkala sistem kelistrikan, penggantian material sesuai jadwal, serta uji fungsional alarm dan sistem pemadam otomatis.

Laporan akhir juga merekomendasikan peningkatan pelatihan evakuasi, penggunaan material interior berstandar tahan api yang lebih ketat, serta penerapan audit keselamatan independen setiap enam bulan. Perusahaan di wajibkan membuat prosedur tanggap darurat yang terintegrasi, termasuk sistem komunikasi internal yang tetap dapat berfungsi saat terjadi bencana.


Tragedi di Gedung Terra Drone memberikan pelajaran besar mengenai bagaimana kombinasi kecil dari kelalaian teknis dan kurangnya persiapan dapat berujung pada bencana yang memakan banyak korban jiwa. Dengan terungkapnya penyebab utama dan rekomendasi perbaikan menyeluruh, di harapkan insiden serupa tidak kembali terulang di masa depan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *